Pabrik Gas Di Indonesia

plantAIndonesia pada saat ini sangat membutuhkan pasokan gas industri yang stabil terhadap industri-industri besar maupun kecil yang terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Maka, kebutuhan akan pembangunan pabrik gas sangat besar dan bersifat urgent.

Misalnya, belum lama ini sebuah perusahaan dari Korea Selatan sangat berminat membangun pabrik tabung gas senilai 40 juta dolar AS di kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.Mereka sudah melakukan pendekatan ke BP Batam untuk mengumpulkan informasi persyaratan investasi hingga insentif yang diterima jika membangun pabrik di Batam.

Namun, untuk awalnya, perusahaan asal Korea Selatan ini ingin lebih jauh mengetahui tentang pembebasan fiskal ekspor-impor, ketersediaan lahan, waktu dan biaya perijinan serta biaya set-up factory di Batam. Saat ini, BP Batam tengah mengakomodir kalkulasi lahan yang dilakukan perusahaan tersebut termasuk penentuan lokasi yang memiliki kemungkinan antara di Kawasan Industri yang ada atau alokasi lahan siap pakai. Mereka juga sudah memiliki pasar untuk menjual produksi tabung gasnya ke pasar Taiwan, kawasan Timur Tengah, dan Malaysia. Inilah alasannya mengapa perusahaan ini ingin membangun pabrik gas di Batam, yaitu karena orientasinya untuk dijual ke luar negeri.

Namun, di daerah lain, rencana Pembangunan Pabrik Gas yang akan dilakukan PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) di Dukuh Plosolanang, Desa Campurejo, Bojonegoro menemui kendala yang cukup besar. Kabar terakhir menyebutkan, ternyata hingga saat ini rencana pembangunan pabrik gas tersebut belum mengantongi izin.

PT BBS dilaporkan belum mengantongi izin Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL dan UPL). Dua persyaratan itu nantinya menjadi dasar untuk diterbitkannya izin lokasi. Setelah kedua izin itu selesai, berikutnya yang harus dilakukan PT BBS adalah mengajukan Izin Analisa Dampak lalu Lintas (Amda lalin).

Setelah rekomendasi Amdal lalin  sudah beres, baru tahap berikutnya mereka bisa mengajukan ijin mendirikan bangunan (IMB) dan Ijin gangguan (HO) untuk diajukan ke Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Satuan Kerja Sementara Pelaksana Hulu Migas (SK Migas).

Memang, kalau dibandingkan dengan negara-negara lain, ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pihak Pemerintah dan para pemain di bidang gas industri. Contohnya saja kalau kita bandingkan negara kita dengan Iran. Baru-baru ini, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad telah meresmikan pabrik besar untuk "Associated Petroleum Gas (APG)" di Teluk Persia, yang dibangun di pulau selatan Siri, Iran, untuk memproduksi gas kondensat dan mengumpulkan gas terkait. Dan karena lokasinya yang strategis, Pulau Siri akan berubah menjadi pusat untuk ekspor gas.

Pabrik gas yang diresmikan pada hari Kamis itu, akan menghasilkan gas alam cair (LNG) dan ketika beroperasi penuh akan mengumpulkan rata-rata 100-104000000 kaki kubik per hari (mcfpd) gas kering. Pabrik NGL itu juga akan menghasilkan 1.500 barel per hari (bph) pentana, 4.000 bph butana, 1.400 barel per hari gas kondensat, dan 8.000 barel per hari propana. Saat ini beberapa negara-negara Asia dan Eropa telah menyatakan kesiapan untuk membeli cairan gas kondensat dan dari pabrik Siri, meskipun adanya sanksi minyak dan gas terhadap Iran.
 

On February 20th, 2013, posted in: Berita
Comments are closed.